Cerita Sex DARK LANTERN Darkside – Part 42

Cerita Sex DARK LANTERN Darkside – Part 42by on.Cerita Sex DARK LANTERN Darkside – Part 42DARK LANTERN – Part 42 BAB IV Darkside Malam telah larut. Kami dan para prajurit lainnya bermalam di kuil raksasa ini setelah siangnya mengurus mayat-mayat teman-teman kami. Entah kenapa perasaanku tidak enak. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi di dalam kuil ini. “Kamu kenapa?” tanya Albert. “Tt..tidak apa-apa. Perasaanku tidak enak. Seperti ada sesuatu yang […]

tumblr_nmbi64UTj81u53r89o2_1280 tumblr_nmbi64UTj81u53r89o3_1280 tumblr_nmbi64UTj81u53r89o4_1280DARK LANTERN – Part 42

BAB IV

Darkside

Malam telah larut. Kami dan para prajurit lainnya bermalam di kuil raksasa ini setelah siangnya mengurus mayat-mayat teman-teman kami. Entah kenapa perasaanku tidak enak. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi di dalam kuil ini.

“Kamu kenapa?” tanya Albert.

“Tt..tidak apa-apa. Perasaanku tidak enak. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi,” jawabku.

Kami berdua duduk di perapian. Suasana sepi. Para prajurit sebagian sudah beristirahat. Aku melihat William sudah mendengkur. Entah Thomas berada di mana. Perasaan yang tidak enak ini membuatku tidak bisa tidur.

“Kamu ingin jalan-jalan sebentar denganku. Jarang sekali kita jauh-jauh seperti ini tapi tidak menjelajahi tempat yang kita tuju. Kuharap kita ke sini tidak hanya untuk berperang,” kata Albert.

Aku pun mengiyakan ajakannya. Kami berjalan-jalan di sekitar kuil raksasa ini. Bangunannya semuanya seperti dipahat. Tidak ada kulihat pondasinya. Batu-batunya seperti dipahat oleh seorang seniman yang luar biasa besar, baik tingginya maupun sifatnya. Coba dilihat bangunan ini. Isinya, tingginya. Bagaimana manusia sekecil aku bisa memahat ruang yang ada di atapnya? Rasanya tidak mungkin. Kalau toh memang ada manusia yang memahatnya, pasti membutuhkan tangga yang tinggi, juga pekerja yang tidak sedikit.

Albert menggenggam tanganku. Rasanya ia sangat erat menggenggamnya. Seperti tak ingin dilepas. Kami kemudian keluar kuil ini. Albert menarikku ke sisi luar kuil. Kemudian di sana ia menciumku.

“Albert…hhmmhhmmm….jangan di sini..hhmhhmmm…,” aku terus diciumi bertubi-tubi olehnya.

“Aku tak bisa menahannya Lili, ohh…hhmmm,” katanya.

Kami melakukan french kiss. Lidahnya mulai menari-nari di dalam rongga mulutku, mencari lidahku di sana. Ludahku dihisapnya. Rasanya lidahku sampai kering dibuatnya. Tangannya mulai menggerayangi buah dadaku. Dan ciumannya mulai bergeser ke pipiku, lalu ke leherku.

“Albert…ohh…,” desahku. Kulingkarkan kedua tanganku di lehernya.

Ia mulai menarik tali yang mengaitkan bajuku, dilonggarkannya tali itu hingga baju atasku terbuka. Aku tak memakai bra tentu saja, jaman itu belum ditemukan bra. Hanya kain yang melilit untuk menahan payudara, tapi aku tak pernah memakainya. Albert sangat terkesima ketika melihat buah dadaku. Putingnya berwarna pink, kulitnya berwarna putih dengan sedikit bintik-bintik.

“Kenapa aku baru kali ini melihat pemandangan seindah ini, Lili? Tak tahukah kamu, kalau kamu punya tubuh yang sempurna? Boleh aku menciumnya?” tanyanya. Kenapa ia harus bertanya kalau ingin?

“Ciumlah,” kataku.

Bibirnya pun didekatkan ke dadaku. Putingku diciumnya, tidak, ia jilat. Ohh…aku makin terangsang. Ini pertama kalinya aku disentuh laki-laki. Apakah malam ini aku akan kehilangan keperawananku? Dia sangat lihai sekali memancing libidoku seolah-olah sudah pernah bercinta dengan ribuan wanita. Putingku ia sedot, dihisap, suaranya sampai terdengar. Aku takut kalau ada yang mendengar suara sedotan ini.

“Albert, nanti ada yang dengar!” bisikku.

Ia tak mempedulikannya. Puting susuku kananku disedotnya, kemudian yang sebelah kiri ia pencet-pencet, pelintir-pelintir. Vaginaku sepertinya mengeluarkan sesuatu,..crut…crut….apa itu? Aku tak pernah merasakan ini sebelumnya. Hangat, enak, geli, nyaman. Ia lalu meremas lagi. Ohhh….nikmat sekali. Tanganku kemudian diraihnya dan diarahkan ke selakangannya. Aku bisa merasakan batangnya yang sudah mengeras.

“Lili,…ohh…aku tak pernah merasakan sentuhan wanita sebelumnya,” kata Albert.

“Aku juga, baru pertama kali,” bisikku.

Kami berciuman lagi. Robert menurunkan celananya. Aku menyentuh sesuatu yang keras di bawah sana, tanganku dituntun untuk menggenggamnya. Kulitnya lembut, tapi batang itu keras. Ada bulu-bulu halus. Aku tak melihatnya tapi bisa merasakannya. Tanganku dituntun untuk mengocoknya. Kukocok batang itu sambil kugenggam.

“Ohh….Lili, it’s soo fucking good,” bisiknya. Kali ini tangan satunya menyentuh kemaluanku dari luar celana. Entah kenapa rasanya nyaman sekali ketika tangannya menyentuh daerahku yang paling sensitif. Aku makin banjir. Ia menciumiku terus sambil kedua tangan kami sibuk mengelus-elus kemaluan pasangannya.

“Albert…,” desahku ketika tangannya mulai masuk ke celanaku dan menyentuh rambut kemaluanku. Sedikit demi sedikit jarinya mulai menyentuh bibir kemaluanku yang sudah becek.

“Kamu becek sekali sayang,” bisiknya.

Aku kemudian mengelus-elus buah zakarnya. Dia makin melemas.

“Lili,…itu…itu..ahhh…,” desahnya.

“Enak?”

Albert mengangguk.

“Lili…kocok yang cepat!” perintahnya.

Aku pun mengocoknya.

“Aku juga, tolong!” kataku.

Albert pun mengobel kemaluanku dengan cepat. Kami hampir klimaks. Tangan kirinya merangkulku. Kami berciuman dan nafas kami memburu. Dan benarlah, batangnya sangat keras hingga aku bisa merasakan kedutan-kedutan bersamaan dengan semburan lahar kenikmatannya hingga membasahi bajuku. Aku pun demikian. Sangat becek hingga cairan banyak keluar dari bawah sana. Tangan pangeran Albert pun aku jepit dengan kedua pahaku.

“Albert…enak sekaliiii…..,” desahku.

“Aku juga…ahhhkkk…,” katanya.

Kami berdua lalu berciuman dengan hangat. Setelah itu membersihkan sesuatu yang menempel di bajuku. Kami tertawa bersama.

“Oxymoron, lihatlah! Masa’ hanya aku yang harus belepotan cairan?” gerutuku.

“Yah, apa kamu mau memakai bajuku?” tanyanya.

“No Way!” jawabku.

Kami berciuman lagi dan ia masih sempat-sempatnya menikmati payudaraku yang masih terekspos.

“Sudah-sudah, aku tak mau kita bercinta di sini. Nanti kalau kita sudah di London silakan nikahi aku, kita akan bercinta sampai puas. Rontokkan tulang-tulangku kalau perlu,” kataku.

“With my pleasure, My Lady,” kata Albert.

GLUDUK! GLUDUK! Kami dikejutkan oleh sebuah suara yang berasal dari atas.

“Apa itu?” kataku.

“Dari atas! Ayo!” Albert mengajakku untuk menaiki sebuah pijakan. Di samping kuil itu ada sesuatu yang bisa didaki seperti tangga kecil. Kami berlari menuju ke atas. Dan sesampainya di atas, aku melihat Thomas.

Thomas tampak tertawa. Di tangannya ada sesuatu yang berpijar seperti petir. Hah? Elemen petir? Bagaimana bisa? Thomas adalah seorang elemental tanah. Bagaimana dia bisa menggunakan petir.

“Lili, lihatlah. Aku sekarang mengerti tentang perasaanku yang tidak enak selama ini,” ujarnya.

“Apa? Thomas, apa yang kau lakukan? Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Ketika aku masuk ke kuil, ada sesuatu yang memanggilku. Aku tak sadar. Dan tahu-tahu aku diajak masuk lebih dalam lagi. Aku bisa bicara dengan kekuatan yang sangat besar. Lili lihatlah! Aku bisa mengendalikan petir. Lihatlah!” di tangan Thomas terbentuk sebilah tombak dan menyala-nyala seperti petir. “Aku juga bisa mengendalikan elemen air.”

Dari bawah tiba-tiba seluruh air naik ke atas dan berputar-putar di atas telapak tangan Thomas. Kemudian menyebar.

“Thomas, apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku.

“Dia bicara dengan Azrael!” seru sebuah suara. Aku menoleh ke arah suara itu. Michele? Dia susah payah naik ke atas kuil ini.

“Michele, sang Mist,” gumam Thomas.

“Hentikan Thomas, kamu tak tahu kekuatan Azrael yang sebenarnya. Dia lebih mengerikan daripada yang kau pikirkan. Kamu tak akan bisa mengendalikan kekuatan itu!” kata Michele.

“Tidak, aku rasa memang ini sudah jadi takdirku. Suara itu memberitahuku, aku adalah seorang Destroyer. Ya, seorang Destroyer. Aku bisa mengendalikan semua elemen, bahkan….aku bisa menghancurkannya. Dengan kekuatan ini, aku akan menguasai dunia. Aku akan kuasai enam benua, aku akan rajai seluruh manusia, perdamaian akan tercipta dengan tanganku ini,” kata Thomas.

“Thomas, kamu sudah gila!” kata Albert.

“Aku tidak gila, apa kalian tidak melihatku ini. Lihatlah tombak ini!” kata Thomas sambil mengacungkan tombak petirnya. Kemudian dia melemparnya jauh. Tombak itu pun melesat dengan cepat meninggalkan kami. Tak berapa lama kemudian dari kejauhan tombak itu menghantam tanah dan menimbulkan ledakan yang ledakannya adalah sebuah pijaran petir yang membubung sampai ke langit.

Mengerikan! Ini terlalu mengerikan.

“Lili, bunuh Thomas sekarang! Kita tak boleh membiarkannya hidup!” kata Michele.

“Membunuhku? Dia sudah terikat sumpah dengan keluarga Van Bosch, bahwa kami dilarang untuk saling membunuh,” kata Thomas. “Kalian tak akan bisa menghalangi aku.”

“Thomas, kumohon hentikan!” kataku.

“Aku pun bisa membuat jari-jari pedang sepertimu Lili, lihatlah!” Thomas kemudian menarik seluruh elemen besi. Dia lalu menyelimuti tangannya seperti sarung tangan. Kemudian di ujung jarinya ada pedang-pedang yang sangat panjang. Dan dia melakukan sesuatu yang tak akan kumaafkan seumur hidupku.

“Tidaaaaakk!” seruku. Pedang-pedang itu menusuk ke dada Albert.

“Ohhkkk…!” Albert melotot. Tubuhnya tertembus pedang-pedang itu. Thomas tertawa puas.

Aku marah. Iya, marah. Aku melakukan hal yang sama seperti Thomas, memanggil seluruh elemen besi, kemudian tanganku terbungkus oleh sarung tangan besi dengan jemarinya yang panjang seperti pedang. Belum sempat aku ayunkan Thomas tiba-tiba menghentikanku. Tanganku tak bisa digerakkan.

Tiba-tiba tangan besiku menjadi abu. Elemen-elemen besiku menjadi abu???

“Itulah aku, Destroyer. Aku telah menghancurkan elemen besimu, Lili. Kamu lihat sekarang kekuatanku. Tak ada yang bisa menghalangiku sekarang. Aku akan pergi ke Eropa. Dan aku akan taklukkan Eropa. Hahahahahahaha!” katanya. Ia membanting tubuh Albert. Aku langsung menuju ke Albert.

“Albert! Albert!” panggilku.

Dari kaki Thomas muncul percikan listrik, percikan itu makin jelas dan kemudian kilat menyambar di tempat ia berdiri membuat sebuah garis melengkung menuju ke langit. Setelah beberapa kali sambaran kilat itu menghilang. Michele segera menghampiri Albert.

“Lili?!” kata Albert.

“Jangan bicara! Jangan bicara!” kataku.

“Maafkan aku, tak bisa….memenuhi janji….mu….,” Albert pun menghembuskan nafas terakhirnya malam itu.

Thomas, aku tak akan memaafkanmu.

Author: 

Related Posts