Cerita Sex Tusuk Konde – Part 18

Cerita Sex Tusuk Konde – Part 18by on.Cerita Sex Tusuk Konde – Part 18Tusuk Konde – Part 18 Pembebasan (part.2) ******* Sebuah Sweet-Room yg cukup nyaman dan luas, dilengkapi dengan sofa, televisi, dan beberapa kursi yg difungsikan sebagai ruang santai, pada bagian sudutnya terdapat sebuah pintu yg terhubung pada kamar tidur dengan ranjang double size, yg tentunya difasilitasi pula dengan kamar mandi lux lengkap dengan bathtubenya. Saat melihat […]

multixnxx- Hikaru Kirameki Hikaru Kirameki enjoys s-6 (1) multixnxx- Hikaru Kirameki Hikaru Kirameki enjoys s-6 multixnxx- Hikaru Kirameki Hikaru Kirameki enjoys s-7 (1)Tusuk Konde – Part 18

Pembebasan (part.2)
*******
Sebuah Sweet-Room yg cukup nyaman dan luas, dilengkapi dengan sofa, televisi, dan beberapa kursi yg difungsikan sebagai ruang santai, pada bagian sudutnya terdapat sebuah pintu yg terhubung pada kamar tidur dengan ranjang double size, yg tentunya difasilitasi pula dengan kamar mandi lux lengkap dengan bathtubenya. Saat melihat keluar jendela kaca, tampak membentang lautan luas dengan ombaknya yg sesekali menjilati pantai. Sepertinya hotel itu memang sengaja menyajikan suasana keindahan pantai bagi pengunjungnya.

Setelah masuk sebentar kedalam kamar tidur, Astrid kembali keluar menuju ruang santai, dan kali ini sudah dengan pakaian khas cheerleader yg telah disiapkan sebelumnya, disamping juga dengan gelas berkaki yg dipegangnya. Spontan tatapan ketujuh anak yg duduk disofa dan kursi seluruhnya terpusat kepadanya. walau agak canggung dirinya menjadi pusat keterpanaan, rasa bangga tentu juga menyeruak dari dalam hati kecilnya, hingga semakin percaya diri gadis itu untuk terus mempermainkan birahi bocah-bocah itu dengan membentangkan senyum semanis mungkin dan gerakan yg agak dibuat-buat sehingga terkesan genit dan menggemaskan.

Oh iya nih, kita kan belum kenalan ya.. nama kakak Lidya ucap Astrid berbohong, karna sesungguhnya gadis itu memang tak ingin jati dirinya diketahui oleh ketujuh anak itu.

Sekarang perkenalkan dong diri kalian satu persatu, masak bengong begitu terus sih

Saya Ronald kak jawab anak yg berkulit kuning dengan mata sedikit sipit.

Saya Robi.. seorang anak berpenampilan rapi dengan kacamata minus tebal melekat dimatanya, yg dimaksud berpenampilan rapi disini adalah karna seragam yg dikenakannya benar-benar mengikuti aturan yg digariskan oleh sekolah, yaitu kemeja yg dimasukan dengan rapi didalam celanya, serta dasi kupu-kupu yg masih melekat dikerahnya, ditambah dengan rambutnya yg senantiasa tersisir rapi kearah samping dengan minyak rambut yg pekat, gerakannya canggung dan malu-malu, cukup kontras bila dibandingkan keenam temannya yg lain yg berpakaian seenaknya saja dengan kemeja yg dikeluarkan serta celana yg sengaja dibuat kedodoran agar terkesan pangki dan gaul, walaupun teman-temannya sering mengejeknya dengan sebutan “cupu” (culun-punya) tapi tdk bisa dipungkiri Doni lah yg prestasi akademisnya paling menonjol diantara mereka, predikat juara kelas selalu disandangnya tiap semester, namun soal kegemaran onani, tak jauh beda dengan yg lainnya, dialah yg paling getol mengakses situs-situs dewasa didunia maya.
Saya Danang.. yg bertubuh kurus tinggi dengan potongan rambut mohak

Saya Sadam.. seorang anak berdarah timur tengah, yg walaupun masih berusia 15 tahun namun jambang dan janggutnya mulai terlihat tumbuh

Bondan.. bocah yg terlihat paling kecil diantara mereka, walaupun usianya juga tak jauh berbeda dengan yg lainnya.

Lutfi.. seorang anak berkulit gelap, dengan postur tinggi kurus.

Bram.. seorang anak bertubuh agak gempal, yg tampaknya memiliki nafsu yg paling tinggi dibanding yg lainnya, itu terlihat mulai semenjak didalam mobil hingga didalam kamar hotel itu, bocah itulah yg pandangan matanya tak pernah lepas dari Astrid, jakunnya yg sesekali bergerak karna menelan ludah menandakan hasratnya kepada Astrid begitu tinggi.

Koq jadi pada bengong sih, katanya mau dicoliin tititnya sapa Astrid yg berdiri ditengah mereka.

Mendengar ajakan Astrid, ketujuh brondong itu hanya saling bertatapan satu sama lain, seolah bertanya-tanya langkah apa yg harus mereka lakukan selanjutnya. Melihat tingkah mereka yg tampak kikuk, Astrid mulai memberi inisiatif.

Ayo, dibuka dong celananya supaya kakak bisa langsung membelai titit kalian.. namun kembali anak-anak itu terlihat masih saling menunggu, hingga akhirnya Astrid berjongkok untuk kemudian membukakan sendiri celana pendek berwarna biru kepunyaan Lutfi, karna anak itulah yg posisinya lebih dekat dari Astrid.

Ayo yg lain buka sendiri ya pinta Astrid, yg telah berhasil melepaskan celana Lutfi hingga menyisakan sempaknya saja, sementara keenam anak lainnya walau dengan ragu-ragu mereka mulai melucuti celana mereka sendiri.

Wooww kamu masih SMP tapi tititnya gede juga ya.. kagum Astrid setelah melepas celana dalam yg membungkus selangkangan Lutfi.

Batang penis yg tak seberapa besar namun berukuran panjang itu kini berada didalam remasan tangan kanan Astrid, warnanya yg hitam legam tampak tegak mengacung, sementara siempunya hanya cengengesan menanggapi ocehan anak-anak lain yg menggodanya.

” Bussseeetttt….kontol apa uler kadut tuh..panjang mana item begitu..” celetuk salah seorang anak yg diikuti oleh tawa mereka

” Ngeloco terus tiap hari gimana gak panjang…” sambung yg lainnya, Sementara Astrid hanya tersenyum menanggapi komentar bocah-bocah itu sambil tangannya mulai mengurut dengan lembut batang jakar Lutfi secara berirama.

Reaksi alamiah mulai terlihat, ekspresi Lutfi yg sebelumnya hanya cengengas-cengenges kini tampak mulai memejamkan matanya sambil mulutnya terbuka, sementara wajahnya menengadah keatas langit-langit ruangan, dan dari mulutnya terdengar erangan nikmat.

Bersamaan dengan itu, keenam anak lainnya telah menanggalkan celana mereka, dan dengan tanpa dikomando tangan mereka memainkan sendiri batang-batang jakarnya dengan tatapan yg tertuju pada selangkangan Astrid yg duduk berjongkok dibawah Lutfi, sehingga memperlihatkan gundukan yg masih terbungkus lingri berwarna merah.

” Enak kan? tititnya dicoli’in begini…enak enggak? ” goda Astrid sembari terus mengocok-ngocok batang kontol Lutfi, sesekali diludahinya telapak tangannya sendiri untuk memberikan pelumasan.

” Mau diisepin pake mulut kakak enggak? ” tawar Astrid sambil melirik nakal kewajah Lutfi dengan memainkan lidahnya menyapu bibirnya.

” Mau kak.. Mau.. Plis kak..isepin dong..” jawab Lutfi bernafsu, sebuah jawaban yg lebih tepat dikatakan sebagai suatu permohonan.

Sejurus kemudian ujung lidah Astrid mulai menari-nari pada sekujur batang kontol bocah itu yg diikuti dengan desahan tertahan Lutfi yg tangannya kini mulai meremasi kepala Astrid.
” Zzzzzzz….aaaaaaahhhhhh…..asssiiiikkkkk.kkaaakk k…aaahhhh mantaaaappp ” racau Lutfi, yg untuk pertama kalinya merasakan sentuhan lembut seperti itu pada batang penisnya, dan bertambah riuh erangannya saat Astrid mulai memasukan batang rudal itu kedalam mulutnya. Tangan Lutfi yg sebelumnya hanya memegang kepala Astrid kini mulai menjambak-jambak rambutnya, kedua kakinya terlihat mengejang lurus seiring gerakan kepala Astrid yg bergerak turun naik mengulum penis bocah itu.

Keenam bocah lainnya hanya menatap dengan tak berkedip aksi mendebarkan yg hanya pernah mereka tonton didalam film-film porno itu, ekspresi wajah mereka bagaikan sekumpulan kucing yg sedang menyaksikan daging yg teronggok, yg seolah tak sabar untuk segera mendapatkan apa yg sedang dirasakan Lutfi. Mereka yg sebelumnya masih duduk diatas kursi sambil memainkan batang jakar mereka sendiri, kini telah beranjak berdiri mengelilingi Astrid yg masih sibuk dengan “misinya”.

Semakin bersemangat Astrid mendapatkan tanggapan yg begitu antusias dari bocah-bocah itu, semakin erotis dirinya memblow-job batang kontol yg walaupun tak seberapa besar namun berukuran cukup panjang itu.

” slllluuufffrrrpppp…ghlogghhh…mmmmm..nyemmm..ny emmmm…. halian hudah gak habar hingin dihisap huga khan?…” goda Astrid sambil mulutnya tetap terisi batang kontol.

Sejurus kemudian ditelannya sampai tandas seluruh batang jakar yg ada didalam kulumannya itu, hingga hanya menyisakan buah pelirnya saja yg masih terhimpit oleh bibir gadis itu, ditahannya beberapa detik hingga serasa pangkal tenggoroknya terhujam oleh ujung jakar. Sampai akhirnya dikeluarkan seluruhnya, diikuti dengan nafas Astrid yg sedikit terengah-engah bagai sehabis menyelam didalam air, yg membuat bocah-bocah itu semakin melongo menyaksikan aksi Astrid yg cukup atraktif itu.

Belum habis keterpanaan mereka, tiba-tiba Astrid mendorong keatas kedua paha Lutfi sehingga kini bokong bocah itu tampak menjorok kedepan memperlihatkan lubang anusnya yg coklat kehitaman. Hal yg tak pernah diduga oleh mereka kini tepat berada dihadapan bocah-bocah itu, bagaimana wajah cantik Astrid dengan lidah dan bibirnya yg seksi nan menggoda itu dengan tampak jijik menjilati lubang anus dari bokong yg hitam legam itu, yg membuat siempunya anus sampai memejamkan matanya dengan sesekali meringis nikmat, erangan-erangan tak jelas keluar dari mulut bocah yg tengah berada di puncak awang-awang itu sambil kedua tangannya mendekap pahanya sendiri untuk memberi akses kepada Astrid agar lebih leluasa melumat lubang anusnya.

Astrid yg niat sebelumnya hanyalah untuk mendapatkan “donor” air mani dari bocah-bocah itu, dan sama sekali tiada terbersit niat untuk memperoleh kenikmatan dari mereka, kini tanpa disadari birahinya mulai bangkit, sensasi tersendiri dari bocah-bocah hijau itu membuatnya tak ingin menampik untuk dapat mereguk kenikmatan dari mereka, apa salahnya sambil meyelam minum air, pikirnya.

Kini Astrid kembali menarik turun kedua paha Lutfi sehingga kedua kakinya kembali menjuntai dilantai sehingga memperlihatkan batang kontolnya yg mengacung keatas, dan dengan sigap kembali dikulumnya. Rasa nikmat yg begitu deras melanda birahi Lutfi akhirnya menunjukan tanda-tanda akan mencapai puncak, tubuhnya tampak mengejang dengan bokong diangkat keatas seolah ingin menenggelamkan batang kontolnya lebih tandas kedalam mulut Astrid, sementara dari mulutnya terdengar erangan keras dengan kelopak mata yg hanya terlihat putihnya saja.

Melihat gelagat bocah itu akan menyemburkan air maninya, dengan cepat Astrid segera meraih gelas yg berada disampingnya. dengan tangan kirinya gadis itu mengarahkan bibir gelas pada ujung penis yg siap memuncratkan sperma, sementara tangan kanannya sibuk mengocok secara berirama, hingga beberapa detik kemudian menyemburlah cairan kental yg langsung diarahkannya masuk kedalam gelas.

” Aaaaaaaahhhhhhh….. ” hanya pekikan itu yg mengiringi sang bocah ABG dalam memuntahkan cairan kental yg langsung ditampung kedalam gelas oleh Astrid, yg bagaikan seorang pemerah susu sapi sedang mengisi cawan susunya, hampir sekitar dua sendok makan cairan kental itu tertampung kedalam gelas, hingga akhirnya sang bocah ambruk lemas diatas sofa.

Donor pertama telah berhasil ditampungnya tanpa kendala yg berarti, diikuti Astrid yg sedikit mengangkat gelas berisi sperma itu sekedar untuk melihat seberapa banyak mengisi gelasnya, seraya dengan hati-hati meletakan gelas itu kekolong sofa kawatir barang “berharga” itu akan tumpah tersenggol oleh mereka.

” Buat apaan tuh kak? ” tanya salah seorang anak.

” Buat diminum dong, biar awet muda dan cantik…” jawab Astrid sekenanya, namun mereka sudah tak begitu memperdulikan soal jawaban Astrid yg sebetulnya aneh dan tak masuk diakal itu, yg ada dipikirannya adalah ingin sesegera mungkin mendapatkan “jatah” seperti yg telah diterima salah satu rekan mereka yg kini tengah tergolek lesu namun dengan senyum kepuasan yg menghiasi bibirnya itu, dialah Lutfi, bocah berkulit gelap yg hari itu baginya merupakan hari yg bersejarah karna baru kali inilah selama hidupnya mendapatkan kenikmatan seperti itu.

” Ayo siapa berikutnya? ” tawar Astrid kepada bocah-bocah baru gede yg kini berdiri mengelilinginya dengan batang-batang kontol yg telah tersodor kearahnya, salah satu diantaranya bahkan mulai menyodok-nyodok pada wajahnya.

” Saya dulu kak…saya dulu kak…” pinta mereka nyaris bersamaan, yg membuat Astrid semakin kebingungan untuk memilih siapa dulu yg harus dia layani.

Namun akhirnya dengan asal meraih, batang kontol yg berukuran paling besarlah yg kini digenggamnya, siempunya adalah seorang anak keturunan arab, dialah Sadam, yg memang memiliki batang rudal paling besar, baik dari ukuran panjangnya maupun diameternya, dan yg paling mencirikannya adalah tubuh bocah itu walaupun masih usia belia namun mulai lebat ditumbuhi oleh bulu-bulu hingga terkesan dewasa.

Baru beberapa detik Astrid mengoral batang kontol Sadam, dirasakan seseorang mendorong tubuhnya hingga terjerembab telentang diatas lantai karpet.

” Hai…pelan-pelan dong sayang…koq pakek acara dorong-dorongan gitu sih….” protes Astrid, namun dengan intonansi yg lembut, sehingga justru terdengar menggoda bagi anak-anak yg telah dibakar api birahi itu.

Belum sempat kembali bangkit, Sadam langsung menjejalkan batang kontolnya kedalam mulut Astrid yg tak sanggup lagi untuk protes, dan yg lebih gila adalah dengan begitu kasarnya bocah keturunan Arab itu menghujamkan rudalnya maju mundur dengan kedua tangannya mekegang kepala Astrid, sehingga dengan leluasa dirinya memompa dengan kecepatan yg cukup tinggi.

” Aahhhggghhh…ghlloogghh..ghlloogghh…ghlloogghhh …helan..helan dhong..khok..khasar..hanget.. sih.. hukhh..ghlogh..ghlogh…” protes Astrid, dengan mulut yg masih dihujami rudal Sadam, serasa diaduk-aduk mulutnya hingga ujung jakar menusuk-nusuk sampai tenggorokannya, air liur kental mulai menetes dari sela-sela bibirnya, bersamaan dengan matanya yg juga tampak berkaca-kaca karna tersedak pada kerongkongannya oleh hujaman batang penis.

Yg sebelumnya Astrid ingin protes dan menghentikan aksi “brutal” anak itu, namun niatnya itu justru dibatalkannya, ada sensasi berbeda yg meyeruak didalam birahinya, yg dirinya justru mulai menikmati kekasaran itu sebagai suatu petualangan tersendiri, suatu kenikmatan tersendiri, itu dapat ditandai dengan kedua tangan Astrid justru ikut menekan-nekan bokong Sadam untuk membantu agar lebih tandas batang kontol itu menghujami mulutnya.

Hanya beberapa saat, salah seorang anak yg sebelumnya hanya menyaksikan sambil beronani, tiba-tiba menghampiri Astrid yg masih berbaring telentang, lalu dengan tergesa-gesa dan dengan nafas yg memburu mencoba melucuti celana dalam Astrid, hanya beberapa saat kemudian lingri berwarna merah itu berhasil lepas. Bocah yg ternyata adalahBram itu dengan bernafsu langsung membentangkan kedua paha Astrid sehingga mengangkang memperlihatkan liang memeknya yg menganga menantang, dan dengan tergopoh-gopoh bocah bertubuh gempal itu mencoba memasukan batang jakarnya yg cukup besar namun tak seberapa panjang itu, jam terbang yg masih nol membuatnya kesulitan untuk dapat meneroboskan bazoka yg sudah berdiri tegak itu, beberapa kali usahanya meleset, sebelum akhirnya berhasil masuk setelah dibimbing oleh tangan Astrid.

Hanya beberapa detik Bram memompa bokongnya naik turun, seorang bocah lainnya tampak protes, dan dengan sewot menyepak tubuhnya hingga tersungkur.

” Hoi..Bram, gantian dong… tau aturan dikit, ini kan gilirannya si Sadam, kenapa elu main serobot aja, kalo gitu dari tadi aja gua yg serobot…” hardik Danang, dengan tubuhnya yg kurus tinggi dengan rambut mohak, yg dengan pongahnya berdiri bertolak pinggang, mempertontonkan batang jakar panjangnya yg juga berdiri tegak.

” Tapi jangan maen tendang begitu dong..bangsat lu… yg punya memek aja gak masalahin, kenapa jadi elu yg sewot…” gusar Bram, yg kini juga berdiri dengan tangan kanan terkepal siap dihujamkan kearah Danang.

” Woi..Bram, emang elu yg kemaruk..inikan gilirannya Sadam ,kenapa main nyerobot lu..dibilangin malah ngotot lagi…” kali ini Bondan yg juga menyalahkannya.

” Eh, kuntet.. elu ikut-ikutan nyalahin gua juga…? ” umpat Bram kepada Bondan yg memeng bertubuh kecil diantara mereka itu.

” Eh, apa lu bilang…nih lu rasain gendut..” ejekan “kuntet” yg dilontarkan Bram, membuatnya tak terima, sehingga kepalan tangan bocah itu dengan cepat mendarat diperut gendut Bram, yg membuatnya tersungkur untuk yg kedua kalinya.

Melihat situasi dan kondisi yg sudah tidak kondusif dan mengarah anarkis, Astrid segera menghentikan aksinya mengoral batang kontol Sadam.

” Hei..hei..koq jadi berantem begitu sih… Stop deh, stop..plis deh…yg tertib dong, masa’ begitu aja sampai acara pukul-pukulan sih…” mohon Astrid, yg tentu saja dia tidak ingin “misi” yg sedang dia jalani itu kacau, apalagi sampai gagal karna ulah anak-anak yg memang masih berpikiran belum dewasa untuk bisa berlaku tertib itu.

” Abis dia nih kak, si gendut…kemaruk banget..maen serobot aja, gak mau tertib..” bela Bondan

” Iya, tapi elu jangan maen tonjok aja dong..dasar kuntet… kurang gizi sih lu, makanya gak bisa gede.. gimana mau gede, sama emak elu cuma diumpanin tempe bongkrek doang, makanya kuntet lu..” sewot Bram yg masih memegangi perutnya.

” Eh, sudah…sudah… kalo kalian masih ribut terus nanti kakak pulang nih…” ancam Astrid, yg membuat bocah-bocah itu sedikit ciut dengan ancaman itu.

Kini tinggal Astrid yg putar otak mencari cara agar mereka tidak saling sikut seperti tadi. Dan setelah merasa mendapatkan suatu solusi yg diyakini dapat meredam konflik, wajah gadis itu tampak berseri kembali, seraya melucuti t-shirt dan BHnya, prakstis kini dirinya hanya mengenakan rok mini khas cherleeder yg dibaliknya sudah tak mengenakan apa-apa lagi setelah tadi celana lingrienya telah dilucuti oleh Bondan, dan tentunya masih dengan mengenakan sepatu kets putih yg membalut kakinya, menurutnya dengan tidak melepaskan rok serta sepatunya itu dirinya lebih terlihat menggoda ketimbang harus polos sama sekali, pikirnya.

” Ok deh, sekarang gini aja…biar semuanya kebagian sekaligus, biar kakak yg atur…
Danang coba sekarang kamu telentang dilantai..” perintah Astrid yg diikuti oleh Danang yg segera rebahan telentang diatas karpet beludru dengan batang jakarnya yg tegak mengacung keatas. Dalam hati bocah itu masih bertanya-tanya, kira-kira apa yg akan dilakukan Astrid pada dirinya itu.

Sampai akhirnya rasa penasaran bocah-bocah itu mulai terjawab saat Astrid berjongkok diatas tubuh Danang dengan posisi membelakangi. Diludahinya beberapa kali telapak tangannya, sebelum akhirnya diurut-urut sejenak batang bazoka Danang untuk kemudian blesss…masuklah batang kontol yg cukup panjang untuk anak seusia itu, namun berbeda yg dilakukan oleh Bram sebelumnya, kali ini batang kontol Danang menerobos masuk lubang anus Astrid, yg membuat anak-anak itu melongo menyaksikannya.

” widiiihhh…anal seks cing…” komentar salah seorang diantara mereka.

” Ayo Sadam, sekarang kamu entot memek kakak…” perintah Astrid

” Mmmm…bareng-bareng sama Danang nih kak..? ” ragu Sadam dengan sedikit gugup

” Iya sayang…ini namanya double penetrtion..ah, pura-pura kamu, pasti kamu juga sering nonton difilm bokep kan…” yakinkan Astrid

Dengan sedikit gugup Sadam segera memasukan batang rudalnya dengan bantuan Astrid yg membimbingnya. Kini dua batang penis telah berada didalam dua lubang Astrid, dengan posisinya yg telentang diatas tubuh Danang yg berada dibawahnya, sementara dari atas tubuh Sadam yg menghimpitnya, sehingga praktis tubuh gadis itu bagaikan daging yg dihimpit roti hamburger.

Wajah Bram tampak sedikit sewot karna merasa dirinya kali ini tak mendapat bagian, namun kekecewaan itu hanya sesaat sebelum akhirnya Astrid juga memanggilnya.

” Bram, sekarang masukin kontol kamu kemulut kakak ya… sini sayang, jangan merengut gitu dong..kamu boleh memperkosa mulut kakak sesuka kamu sayang…” goda Astrid genit yg membuat wajah bocah itu kembali sumringah.

” Coba dua orang lagi berbaring telentang disamping kakak ya.. biar kakak coliin kontol-kontol kalian, dan kalian berdua juga bisa sambil netek sama kakak dong…”

Dua orang anak lagi segera berbaring disamping kiri dan kanan Astrid, dialah Ronald dan Bondan, dan segera batang-batang kontol mereka kini berada dalam remasan kedua tangan Astrid, batang penis Ronald yg kulup karna memang tak disunat berada ditangan kanan Astrid, sementara milik Bondan yg hanya sebesar jari telunjuk orang dewasa walaupun sudah dalam keadaan ereksi penuh berada ditangan kiri Astrid.

Lengkap sudah lima batang penis berada didalam “kekuasaannya” karna memang hanya itu yg memungkinkan, selain Lutfi yg memang sudah KO setelah memberikan donor pertamanya tadi, juga Robi, nah bocah cupu inilah yg kini harus gigit jari karna kehabisan akses.

” Yaaa… aku dimana nih..? ” keluh Robi dengan wajah ditekuk.

” Si Lutfi nganggur tuh…elu hajar aja dia Rob..ha..ha..ha…” ejek Bondan, yg diikuti oleh tawa yg lainnya yg membuat wajah Robi semakin tertekuk.

Melihat itu Astrid segera melepaskan kuluman penis Bram, dan berusaha membesarkan hati Robi

” Sabar ya sayang…nanti kan kamu kebagian juga..karna kamu yg paling sabar, nanti kakak kasih yg paling spesial buat kamu, oke sayang..? ” hibur Astrid, yg dijawab dengan anggukan kepala oleh Robi, yg saat itu duduk diSofa disamping Lutfi.

” Iya Rob, orang sabar disayang Eyang Subur lu..ha..ha..ha…” goda Ronald.

Beberapa saat kemudian mereka telah mulai berpacu dalam birahi, Sadam dengan bernafsu mulai memompakan bokongnya naik turun, menghujamkan batang kontol besarnya didalam liang memek Astrid, sementara Danang yg berada dibawah lebih banyak diam pasif sambil menikmati denyutan otot anus Astrid yg meremasi penisnya.
Dan seperti yg ditawarkan Astrid, dengan ganas Bram “memperkosa” mulut Astrid, sambil menjambak rambut Astrid dengan kedua tangannya, hentakan-hentakan bokong yg sekuat tenaga berhasil membombardir mulut indah itu menjadi sedemikian rupa, bunyi berkecipak yg riuh berhasil mendominasi irama di ruangan itu, disertai dengan mengalirnya air liur kental yg menetes hingga menumpahi wajah Danang yg berada dibawahnya.

” ghlokk…ghlokk…ghlokkk… herkosa hmulut hkakak hayang….hiyaaaa…aaahhghlogokhhh…brrroottt..” gumam Astrid sambil kedua tangannya mengocok batang kontol Ronald dan Bondan yg saat itu keduanya menikmatinya sambil mengulum dan menghisapi puting susu Astrid.

Benar-benar sensasi luar biasa dirasakan gadis itu, bagaimana hampir seluruh organ tubuhnya menerima batang-batang penis secara bersamaan, hingga hampir lupa kalau dirinya sebetulnya hanyalah untuk mendapatkan sperma yg harus dia kumpulkan, dan dia benar-benar menikmati itu semua bagai sebuah hiburan.

Sentuhan diseluruh organ sensitifnya yg secara bersamaan itu akhirnya membawanya mencapai puncak orgasme untuk yg pertama kali, ditandai dengan gerakannya yg mengejang, disertai dengan pekikan tertahan dari mulut yg masih tersumbat batang penis, juga kocokan tangannya pada batang penis kedua bocah disampingnya menjadi demikian kuat dan cepat yg membuat kedua bocah itu sedikit meringis karna terlalu kuatnya remasan tangan Astrid pada batang jakarnya.

Beberapa saat kemudian giliran Bram yg memekik keras pertanda bocah itu tengah mencapai puncak kenikmatan.

” Aaaaaaaaaaahhhhhhh…..gua keluar meeeeennnn…..uuuhhhh…” lenguhnya, diikuti dengan semburan cairan kental hangat yg memenuhi rongga mulut Astrid.

Cukup panik Astrid menerima semprotan sperma yg memenuhi mulutnya itu, bagaimana mungkin dirinya sempat menuangkan isi didalam mulutnya itu kedalam gelas, sedangkan posisinya tengah terhimpit seperti itu, itu artinya dia harus terus menahan sperma didalam mulutnya sampai kedua bocah yg tengah menggarap lubang vagina dan anusnya tuntas terlebih dahulu.

Terpaksalah Astrid melayani bocah-bocah itu dalam keadaan mulut penuh dengan sperma yg tetap dijaganya agar tidak tumpah ataupun tertelan dengan cara menutup rapat-rapat mulutnya.

Beruntung, hanya sekitar satu menit kemudian terdengar erangan Sadam yg mengiringi pelepasan menuju puncak birahinya, dalam pendakian akhirnya itu Sadam mencoba hendak memagut mulut Astrid yg penuh dengan sperma, yg tentu saja gadis itu berusaha menghindarinya dengan cara memiringkan wajahnya, sehingga Sadam hanya berhasil menciumi pipi gadis itu.

Semburan cairan hangat dirasakan Astrid meyirami rahimnya, hingga beberapa saat kemudian Sadam melepaskan tusukan rudalnya, dan dengan malas segera merebahkan tubuhnya diatas lantai. Kini tinggal Astrid yg merasa kawatir kalau-kalau sperma yg tertampung didalam liang senggamanya itu mengalir keluar, sehingga dengan susah payah ditutupi liang memeknya dengan tangan kanan, dilihatnya Bondan ingin mencoba memasukan batang kontolnya menggantikan Sadam, namun dengan tangannya Astrid menghalangi maksud Bondan, hingga bocah itu mengurungkan niatnya.

Namun tak berapa lama kemudian Danang yg tampak mengejang, semburan spermanya memenuhi liang anal gadis itu.

Aaaddaaaahhhhhhh ngecrrrroootttttt deh peju gua didalem bo-ooollaaaaahhhh pekik Danang seiring semburan spermanya yg membanjiri liang anal Astrid.

Setelah dirasakan tak ada reaksi lagi dari Danang, yg menandakan bahwa bocah itu memang telah tuntas, segera dengan tergopoh Astrid bangkit meraih gelas yg berada dikolong sofa.
Pertama-tama yg ditumpahkan kedalamnya adalah isi yg ada didalam mulutnya yg adalah sperma milik Bram, lalu dengan hati-hati berjongkok, tangan kirinya mengarahkan bibir gelas tepat dibawah anusnya, dan dengan memasukan jari telunjuk kanannya dikorek-koreknya beberapa saat lubang analnya, sehingga tumpahlah air mani milik Danang tepat masuk kedalam gelas.

Kini saatnya mengeluarkan sperma yg masih mengisi rongga memeknya itu, dimasukan tiga jari tangannya kedalam liang vagina, setelah dirasa didapat apa yg dicarinya, segera ditarik jari-jarinya itu, gumpalan cairan kental kini memenuhi ketiga jari tangannya, yg adalah sperma dari Sadam, lalu dimasukan kedalam gelas dengan cara mengoleskannya pada bibir gelas, setelah dirasa habis, kembali diulangi seperti cara pertama dengan mengorek didalam liang vaginanya, hingga setelah dirasa cukup dengan apa yg didapat, tampak gadis itu menarik nafas lega.

Ah, sukurlah..pikirnya. Setidaknya sudah empat orang yg berhasil ditampung air maninya, Walaupun tidak seperti apa yg diskenariokan sebelumnya, perkiraan sebelumnya dia hanya sekedar mengoral penis bocah-bocah itu satu persatu yg berbaris menunggu giliran dengan tertib dan manis, lalu dengan mudah menampung sperma mereka dengan hanya menjulurkan gelas saat mereka klimaks, tapi kenyataannya dilapangan sungguh berbeda.

Masih tiga bocah lagi yg harus diperas spermanya, Namun baru saja dirinya selesai memasukan kembali gelas kebawah kolong sofa, dengan kasar Ronald menariknya berdiri, lalu bocah itu duduk diatas sofa dengan batang kontol yg tegak mengacung, Astrid segera paham dengan apa yg dimaksud bocah ini.

Segera Astrid berjongkok diatas tubuh Ronald yg duduk diatas sofa dengan wajah mereka yg saling berhadapan, digenggam sejenak batang jakar yg berdiri tegak itu, seraya dibimbingnya masuk kedalam liang memeknya, dan segera Astrid menggerakan bokongnya naik turun, namun hanya beberapa saat dirasakannya seseorang mendorong punggungnya hingga dirinya harus tertunduk dengan tubuh berada dipelukan Ronald, rupanya seseorang yg menekan punggungnya dari belakang adalah Bondan, bocah yg paling kecil itu, kembali Astrid juga paham dengan apa yg diinginkan Bondan, sehingga dirinya sedikit menunggingkan bokongnya dengan maksud memberi akses terbaik bagi Bondan untuk menyodomi lubang analnya.

Dua batang penis kini kembali menyumbat dua lubang ditubuhnya, dengan gerakan yg berirama namun juga cukup bertenaga, tubuh Bondan mulai bergerak maju mundur menghujamkan batang kontolnya yg hanya seukuran jari telunjuk itu. Tubuhnya yg kecil dan bergerak dengan begitu atraktif dibelakang Astrid yg bertubuh cukup tinggi besar, sehingga apa yg dilakukan Bondan bagaikan seekor kera yg sedang menyetubuhi seekor kerbau saja layaknya. penisnya yg kecil seperti tanpa hambatan keluar masuk didalam liang anus Astrid, berbeda dengan Ronald yg berada dibawah Astrid, batang penisnya yg kulup itu memiliki ukuran yg cukup besar untuk dapat memeberikan kenikmatan bagi Astrid, sehingga sambil menerima hujaman kontol Bondan pada anusnya, pinggul Astrid juga bergoyang mengocok batang penis Ronald yg mengisi liang vaginanya, sambil mulut mereka dengan rakus saling berpagutan.

Robi yg hingga saat itu masih belum memdapat kesempatan untuk berpartisipasi hanya menyaksikan dengan duduk disofa yg sama tepat disamping mereka sambil memainkan batang penisnya sendiri, sempat terpikir darinya untuk meminta Astrid mengoral batang penisnya itu, namun niatnya itu urung saat dilihatnya mulut Astrid kerap sibuk saling berpagutan dengan mulut Ronald.

“Aaaaaaaaaaddddaaaaaahhhhhhh…..gua keluar nih….aaaaaahhhhh…” pekik Bondan dengan semakin meningkatan goyangan pinggulnya menjadi demikian kuat dan bertenaga, membuat tubuh Astrid ikut bergoyang sehingga wajahnya berbenturan dengan Ronald.

Croottt…croottt…semburan seperma mengisi liang anal gadis itu, hingga akhirnya gerakan tubuh Bondan mulai melemah sebelum akhirnya tethenti sama sekali.

Tanpa ada yg memerintahkan dengan berinisiatif Robi meraih gelas berisi sperma yg diletakan Astrid dibawah sofa, seraya bocah berkaca mata minus itu berjongkok dibawah bokong Astrid. Melihat inisiatif bocah itu Astrid hanya tersenyum.

” Biar saya sendiri yg masukan pejunya kedalam gelas ya kak? ” pinta Robi

” Iya sayang..kamu memang anak pinter, tapi hati-hati ya sayang…jangan sampai gelasnya jatuh lho…”

Kini jari telunjuk Robi mulai masuk kedalam rongga anus Astrid, ditusuk-tusuknya beberapa kali dengan pelan, lalu dicabut, mengalirlah cairan kental keluar yg langsung ditampungnya masuk kedalam gelas, diulanginya lagi dengan memasukan jari telunjuknya, lalu kembali ditariknya keluar, cukup banyak sperma yg Bondan yg tertampung kedalam gelas, lebih banyak ketimbang dengan apa yg dilakukan Astrid sebelumnya.

” Woowww… ternyata kamu pinter ya sayang…emang udah pernah ya? ” puji Astrid, yg dipuji hanya tersenyum malu.

” Ah, belum pernah koq kak…cuma pernah liat difilm aja…” jawab Robi, dengan tatapan matanya masih tertuju pada lubang anus Astrid, jakunnya naik turun, entah apa yg ada didalam pikirannya.

Tanpa,diduga dengan rakusnya lidah Robi menjilati liang anus Astrid, liang anus yg masih menyisakan sebagian kecil sperma Bondan.

” Wooiii…gile, peju gua dimakan sama Robi…he…he..he..” teriak Bondan

” Wah, parah Robi…” seru yg lainnya.

Merasakan ada benda lembut bergerilya didalam liang anusnya, Astrid semakin terbuai, begitu nikmat rasanya sesuatu yg menggelitik itu.

” Aaaawwwww….kamu memang pinter sayang…terus sayang, terus jilatin aaaahhhhh….” racau Astrid sambil tangan kanannya meremasi kepala Robi.

Beberapa saat kemudian terdengar lenguhan Ronald yg menandakan dirinya telah mencapai klimaks, didekapnya tubuh Astrid yg berada dipangkuannya dengan kuat, bokongnya berusaha menghentak-hentak keatas seiring semburan sepermanya yg menyirami liang vagina.

” Aaahhh….aaahhh…aaahhhh…” lenguh Ronald, sambil menghujam-hujamkan bokongnya yg membuat tubuh Astrid yg berada diatasnya ikut terangkat saat bokong Ronald bergerak keatas.

Saat dirasakan tubuh Ronald tak lagi bergerak, Astrid mengangkat bokongnya keatas sehingga terlepaslah batang kontol Ronald yg bersemayam didalam liang vaginanya.

Kini Astrid telah berdiri dengan sebelah kakinya diangkat diatas sofa, sementara Robi telah siap dengan gelas yg berada ditangannya.

” Biar sama saya saja ya kak…” pinta Robi agar dirinyalah yg memindahkan sperma yg masih tertampung didalam liang vagina Astrid kedalam gelas.

” Iya deh sayang…kamu suka ya…?” ujar Astrid yg hanya ditanggapi dengan senyum oleh Robi, seraya jari telunjuknya mulai dimasukan kedalam vagina Astrid.

” Ngobelnya pakai tiga jari sayang…” saran Astrid, dan segera diikuti Robi dengan memasukan jari telunjuk,jari tengah dan jari manisnya sekaligus, dipermainkannya jari-jari itu beberapa saat dengan cara menggosok-gosoknya, lalu ditariknya keluar, melelehlah keluar cairan kental bersamaan dengan keluarnya jemari Robi, yg dengan sigap segera mengarahkan bibir gelas untuk menampung tetesan sperma itu, lalu diulanginya beberapa kali sampai dirasakannya cukup.

Gelas yg berada ditangan Robi kini telah kembali berada ditangan Astrid , diperhatikannya sejenak untuk sekedar melihat isi sperma yg hampir separuh dari gelas itu. Sperma dari enam orang telah berhasil didapatnya, tinggal satu lagi, dan anak berpenampilan bak kutu buku inilah yg masih tersisa untuk dicerat air maninya, setelah itu lengkap sudah, Seraya gadis itu tersenyum kearah Robi, dan dengan tanpa diduga gadis itu meraih tangan kanan Robi. Apa yg dilihat bocah itu membuatnya mendesir saat Astrid mengulum tiga jemari yg sebelumnya digunakan untuk mengeluarkan sperma Ronald, dan pada jemari itu tentunya masih melekat sperma Ronald, dan yg membuat birahinya semakin bergejolak saat dilihat ekspresi Astrid yg selalu menatap kearahnya saat mengulum jemarinya itu, sebuah ekspresi yg menantang.

” Sekarang tinggal kamu yg belum kebagian kan? Seperti janji kakak tadi, anak yg sabar akan kakak berikan yg spesial, kamu boleh minta apa saja kakak akan turutin deh…” ujar Astrid mesra, sambil tangannya mengelus-elus batang jakar Robi yg berukuran cukup besar walau tak sebesar kepunyaan Sadam.

” Ayo, sekarang apa yg kamu mau…? ” Tanya Astrid, yg ditanya justru terlihat bingung sambil tangannya menggaruk-garukan kepalanya.

” Mmmm..apa ya? banyak sih sebetulnya..tapi..ahh.. ini aja deh kak, saya ingin jilatin memek kakak sampai puas, setelah itu saya entotin memek kakak, trus saya juga mau entotin anus kakak, mulut kakak..dan aahh banyak deh…boleh ya kak…? ” terang Robi bernafsu

” Wooiii…kemaruk lu..kebanyakan nonton bokep sih..” celetuk salah seorang anak yg membuat Robi salah tingkah.

” Iiihhh..nakal kamu ya…” goda Astrid sambil memijit hidung Robi yg membuatnya semakin tersipu.

” Tapi apa kamu kuat…jangan-jangan baru nempel udah ngecrot duluan nih…”

” Ah, kakak…kita liat aja nanti deh…aku juga gak tau..”

” Ok deh…biar kita bebas, kita mainnya dikamar aja yuk…” ajak Astrid seraya meremas batang kontol Robi dan menyeretnya kedalam kamar tidur yg membuat Robi berjalan berjinjit-jinjit mengimbangi langkah Astrid yg menarik batang kontolnya.

” Wuuuuuuuuuuu……” terdengar sorakan riuh dari anak-anak saat Astrid menutup pintu kamar.
Mendengar sorakan itu Astrid justru kembali membuka pintu dan menggoda mereka

” Sssssssssssttttttt…..jangan ganggu ya…dan jangan ngiri lho…hi..hi..hi….” goda Astrid dengan genit, lalu kembali menutup pintu itu, dan kembali sorakan yg sama terdengar.

********
” Ayo, katanya mau jilatin memek kakak sampai puas…” Tawar Astrid dengan duduk dibibir ranjang sambil kedua kakinya mengangkang lebar mempertontonkan liang memeknya yg menganga.

Tanpa menunggu lama-lama dengan rakusnya bocah berkacamata minus tebal itu mendekatkan wajahnya keselangkangan Astrid, sambil berjongkok kedua tangannya menyibak bibir vagina, hingga dengan leluasa lidahnya menggelitik lincah hingga bagian-bagian terdalamnya, dan sesekali menyedot-nyedot seolah ingin menelan isi dalam vagina Astrid.

” Mmmmmm…nyemm..nyemmm…shrrruuuffff…aaaaahhhhh …enaaaakkkk…mmmm” racau bocah itu yg membuat Astrid memejamkan mata menahan nikmat sambil menjambak rambut bocah itu.

” Zzzzzzzzz….uuuuuhhhhhhh….terus sayang…enak sayang…aaahh kamu pinter banget sih….aaaahhh..” racau Astrid yg membuat bocah itu semakin bersemangat melihat reaksi dari aksinya itu.

Beberapa menit kemudian setelah merasa dirinya muas “mencicipi” memek Astrid, bocah itu bangkit.

” Kak, sekarang aku mau ngentotin mulut kakak..boleh kan? ”

” Tentu sayang..kamu boleh melakukan apa saja pada kakak…kamu boleh memperkosa mulut kakak sesukamu… Ayo ini sayang aaaaaaaakkkkk…” ucapan Astrid yg begitu vulgar dan liar, membuat bocah itu semakin bernafsu, dan segera saja diarahkan batang rudalnya kedalam mulut Astrid, sementara kedua tanyannya menjambak rambut gadis itu, dan dengan tanpa ampun bocah itu mengocok dengan sekuat tenaga dengan cara memompakan bokongnya maju mundur.

Apa yg dilakukan bocah bertampang alim ini ternyata lebih brutal dibandingkan dengan kawan-kawannya yg lain, hampir muntah Astrid dibuatnya, namun entah mengapa Astrid justru lebih menikmatinya.

” Hooookkkhhhh…ghlllogghhh..ghllllogghhh…ghloooh kkk…wuuueeeekkkhh..aaahhhh..” tampak sedikit kewalahan Astrid dibuatnya, air liur sudah begitu banyak yg menetesi hingga ke dagu, leher sampai kebuah dadanya, bahkan air matanyapun mulai menetes akibat tersedak batang kontol yg menusuk-nusuk tanpa ampun ketenggorokannya.

Beberapa saat kemudian tiba-tiba Robi menarik keluar batang kontolnya, seraya mendekatkan wajahnya kewajah Astrid, dan betapa kurang ngajarnya ternyata bocah itu meludahi mulut Astrid.

” Buka mulut kakak…cuuiiihhhh…” setelah meludahi beberapa kali bocah itu kembali memasukan rudalnya kedalam mulut Astrid untuk kemudian kembali membombardirnya dengan tak kalah hebatnya.

Beberapa menit telah berlalu, kini justru Astrid yg mendorong tubuh Robi hingga berbaring telentang diatas ranjang.

” Kini giliran kakak yg memperkosamu dasar anak kurang ajar…” ujar Astrid seraya dirinya berjongkok diatas tubuh Robi dan memsukan penis bocah itu kedalam liang memeknya, dan dengan gerakan yg bertenaga gadis itu menggerakan tubuhnya naik turun.

” Huhh..huhh..huhh..rasakan ini dasar maniak kecil…” racau Astrid sambil terus memompakan bokongnya naik turun.

” Aaaahhhh….enak kak..terus kak..entotin kontol saya kak…ludahin juga mulut saya kak…aaaaaakkk..” oceh Robi yg diikuti dengan membuka mulutnya lebar-lebar memohon agar Astrid meludah kedalam mulutnya

” Dasar memang maniak kamu..nih nikmatin…cuuuiiihhhh….” berkali-kali Astrid meludah kedalam mulut bocah itu yg dengan rakus langsung ditelannya seolah tak ada puasnya bocah itu terus saja meminta.

” Lagi kak..yg banyak…aaaaaaakkkkkk…”

” Nih, kakak kasih yg spesial…khuueeeeekkkk…cuiiihhhh..”

” Mmmmm…nyem..nyemm..nyemmm..yg ini paling sedap kak…”

Melihat kegilaan bocah itu Astrid justru semakin terangsang, hingga dirasakan dirinya hampir mencapai klimaks seraya dipompakan bokongnya semakin cepat dan bertenaga.

” Aaaaaaaaaaahhhhhhhhhhh….kakak keluar sayang…uuuuuhhhhhhhhh..sedapnya….” lenguh Astrid

Beberapa saat kemudian tubuh Astrid ambruk menimpa tubuh Robi yg berada dibawahnya, melihat lawan mainnya sudah tak memberikan reaksi sedang dirinya masih belum mencapai klimaks, Robi mendorong tubuh Astrid hingga kini tergolek lemas disampingnya.

Tubuh Astrid yg hanya terdiam lemas oleh bocah itu dipaksanya untuk menungging, yg dengan sisa-sisa tenaganya Astrid menuruti permintaan anak itu, kini Astrid memposisikan diri menungging dengan bokong yg menjorok keatas sedangkan posisi kepalanya bertumpu pada ranjang.

Kini bocah itu memandang sejenak bokong Astrid yg menantang itu, sejurus kemudian wajah bocah itu mendekat kearah vagina Astrid, dan dengan rakusnya menjilati cairan memek Astrid yg masih membanjiri liang vaginanya.

“shrrrryyyuuuffffff…..mmmmm…sedaaaaapppp.. .” gumamnya seolah menikmati makanan yg lezat.

” Nah, sekarang saatnya saya menyodomi lubang pantat kakak…bersiap ya kak…” ujar anak itu yg telah memposisikan diri dibelakang Astrid dengan batang rudal yg siap tempur.

” Iya sayaaaang…nikmati sesukamu deh…” jawab Astrid malas dengan mata setengah terpejam, karna dirinya merasa masih sedikit lemas.

Digenggamnya batang rudal dengan tangan kanannya dengan ujungnya tepat mengarah pada liang anus Astrid. Bless…sekali dorong amblas masuk batang jakarnya didalang rongga dubur gadis itu.

Dasar bocah itu memiliki bakat maniak, dengan tanpa ampun dihujaminya sekuat tenaga membombardir liang anus Astrid yg membuat tubuh gadis itu terguncang-guncang.

Hingga beberapa saat kemudian Robi menunjukan gejala hendak mencapai klimaks

“Aaaaaaahhhhhhh….aku keluar kak…..aaahhh..”

Melihat gelagat itu, dengan cepat Astrid meraih gelas berisi air mani yg sebelumnya ia letakan diatas meja kecil tepat disamping ranjang, dan langsung bangkit dari posisi menunggingnya, yg tentu saja membuat batang kontol Robi terlepas dari dalam anusnya. Dan kini berganti dengan tangan Astrid yg menggenggamnya, dikocok beberapa saat lalu crott..crott.. tertampung semua semburan sperma Robi kedalam gelas, itu artinya komplit sudah sperma dari tujuh orang yg dipadikan didalam satu wadah.

*********
Langkah selanjutnya adalah mengambil tusuk konde itu. Dilangkahkan kakinya menuju tasnya yg diletakan didalam lemari. Setelah mendapatkan apa yg diinginkan gadis itu kembali duduk dibibir ranjang, benda yg dalam beberapa waktu belakangan itu menguasai dirinya kini telah berada ditangan kanannya, sedangkan ditangan kirinya memegang gelas yg separuh bagiannya telah terisi cairan kental berwarna keputihan. Dilihatnya sejenak jam dinding diruangan itu, jam dua kurang sepuluh menit, itu artinya belum sampai satu jam mereka berada dihotel itu, sehingga bisa disimpulkan bahwa air mani itu belum “kadaluarsa” berdasarkan syarat yg ditetapkan bahwa tidak boleh lebih dari satu jam setelah keluar dari sumbernya. Ya, tusuk konde itu harus sesegera mungkin dimandikannya kedalam gelas berisikan air mani yg masih segar itu, tapi bagaimana caranya? pikirnya lagi, ah, tinggal dicelupkan saja yg penting seluruh permukaan tusuk konde ini telah terbaluri oleh cairan kental ini, itu yg ada didalam pemikirannya, seraya dimasukan tusuk konde itu kedalam gelas, lalu diaduk-aduk berapa saat. Dirasakan bagian pangkalnya belum tercelup, sehingga dibalik, bagian ujungnyalah yg kini dijadikan pegangan, lalu bagian pangkalnya yg dicelup dan diaduk-aduk, selesai sudah seluruh bagian tusuk konde itu kini telah seluruhnya terbaluri air mani, tapi mengapa hanya seperti itu, tidak terlihat reaksi apa-apa, bayangannya tadi akan seperti apa yg ia saksikan difilm-film horror lokal, yaitu akan mengeluarkan asap saat dia mencelupkannya, atau isi didalam gelas akan bergolak mendidih saat dicelupkan tusuk konde itu, tapi ini tak ada reaksi apapun?. Apakah paranormal itu hanya iseng, hanya mempermainkannya, Ah, persetan..yg penting dirinya telah mencobanya dan tinggal ditunggu saja hasilnya. Selanjutnya adalah membuang tusuk konde itu kedalam lautan, itu juga yg disyaratkan sang paranormal kemarin.

” Kok belum diminum juga pejunya kak..katanya mau diminum biar awet muda dan cantik…” ujar Robi saat dirinya hendak mengenakan pakaiannya untuk segera keluar membuang tusuk konde itu kelaut.

” Ah, kamu percaya aja…kakak cuma bercanda koq…” sanggah Astrid, sambil mengenakan kemejanya

” Plis dong kak…minum dong…” mohon bocah itu

” Ih, kamu itu aneh ya…masa’ kakak dipaksa minum gituan..emang apa untungnya sih untuk kamu..”

” Plis dong kak…saya suka aja ngeliatnya…keliatan seksi aja gitu kalo kakak minum itu..”

” Ih, dasar kamu otak mesum…tapi boleh juga sih..oke deh…siapa takut..” ujar Astrid seraya meraih gelas yg masih berisi air mani itu, dihampirinya Robi yg saat itu sedang duduk bersandar disudut ranjang.

” Nih lihat ya…” ujar Astrid tepat didepan wajah Robi, dan glek…isi dari gelas itu pindah seluruhnya kedalam mulut Astrid, lalu dipermainkannya beberapa saat didalam mulutnya untuk mempertunjukan kepada Robi yg dengan takjub menyaksikannya sambil melongo.

Ghlokk..ghlokk..ghlok.. Dibuatnya cairan kental itu untuk berkumur sehingga tampak bergolak-golak didalam mulut Astrid, dan akhirnya glek…lenyap semua masuk mengisi lambungnya, yg disambut oleh tepuk tangan Robi.

” Wuuuiiihhh…mantap kak..hot abis..kakak memang josssss…” puji Robi

” Ah, dasar kamu otak mesum…kebanyakan nonton bokep sih…” goda Astrid sambil memencet hidung bocah itu.

**********

Kini Astrid telah berada dibibir pantai yg letaknya hanya beberapa meter saja dari kamar tempatnya tinggal. Sapuan ombak berhasil menjilat sepatu ketsnya, untuk kemudian gumpalan air laut itu menjauh lagi ketengah lautan, dan tak lama kembali lagi datang, yg bersamaan dengan itu dilemparkannya benda didalam genggamannya itu, benda dari masa silam dengan kisahnya yg kelam, benda yg beberapa hari belakangan mengendalikan jiwa dan raganya, walau harus juga diakui bahwa benda itu pula yg mengangkatnya dari jurang keterpurukan, benda itu lalu terbawa bersama air laut yg menjauh ketengah laut, entah akan kemana benda itu nantinya akan terdampar.

Ditatap sejenak gumpalan air laut yg menjauh itu, fuhhh..selesai sudah semuanya,pikirnya, sambil menarik nafas lega. Untuk selanjutnya biar dilihat saja nanti hasilnya, apakah benda celaka itu akan kembali lagi pada dirinya? semoga tidak, semoga semuanya berjalan seperti yg diinginkannya, begitu harapannya.

Lalu bagaimana dengan bocah-bocah itu, apakah sebaiknya ditinggalkannya saja, toh semua urusan administrasi dan pembayarannya sudah beres, pikirnya, seraya dilihatnya arloji ditangannya yg baru menunjukan pukul dua siang.

Gadis itu berpikir sejenak, senyuman nakal tampak terlukis diwajahnya, Ah, kenapa tidak lebih baik aku bersenang-senang saja dengan brondong-brondong itu, paling tidak masih ada waktu sekitar tiga jam sebelum petang nanti harus pulang, pikirnya, seraya melangkahkan kakinya menuju kamar hotel tempatnya singgah untuk kembali berasik masuk.

**************

Sabtu pagi itu Astrid baru saja terjaga dari tidurnya, tidur yg nyenyak, dengan tanpa adanya lagi gangguan dari roh yg tiga hari lalu masih mengendalikan tubuhnya disetiap malam hari, tapi semenjak sepulangnya dari Ancol tiga hari lalu hingga saat ini, gangguan itu sama sekali tidak dirasakannya lagi, dan tusuk konde itupun sudah tak pernah kembali lagi, sehingga dia telah benar-benar merasa yakin bahwa dirinya sudah sepenuhnya terbebas dari cengkraman roh Romlah.

Gadis itu hanya tersenyum bila mengingat peristiwa di hotel kawasan Ancol itu, sampai pukul lima sore dirinya dijadikan bancakan oleh pemuda-pemuda bau kencur itu, tapi mengapa sampai saat ini dia begitu merindukan sentuhan bocah-bocah itu lagi, mengapa dirinya menjadi keranjingan seperti ini, tapi? ah..tidak, seraya ditampiknya pikiran itu jauh-jauh, dia masih punya Bimo, kekasihnya, dia mencintai Bimo, dan dia tidak ingin menghianati Bimo.

Seolah berusaha membela diri, dia menganggap perbuatannya dengan bocah-bocah itu semata-mata dilakukan sebagai suatu usaha untuk melenyapkan pengaruh tusuk konde yg berusaha menguasai jiwanya, dan itu berhasil, perkara dia sebetulnya juga sangat menikmati pesta seks dengan remaja-remaja tanggung itu, dianggapnya sebagai sesuatu yg manusiawi, tapi bagaimana dengan pesta seks yg dilakukannya lagi sekembalinya dia dari membuang tusuk konde itu dilaut, apa dirinya masih bisa memberi pembenaran bahwa itu sebagai sebuah keterpaksaan, ah..masa bodo lah..pikirnya lagi..no body perfect, yg penting dirinya harus bijaksana menyikapinya, begitu prinsipnya, entah itu benar atau tidak diapun tak terlalu yakin.

Diputuskannya pagi itu untuk memanggil Bimo, dihari libur kuliah ini dirinya ingin menghabiskan waktu dengannya, seraya dikutak-katik sebentar telpon genggam ditangannya, untuk kemudian dihubunginya kekasihnya itu

” Yang…main kerumah dong…kebetulan lagi sepi nih dirumah….. Ok ya, aku tunggu…..enggak pake lama lho…udah gatel nih…”

***********

Nyanyian camar laut dan debur ombak seolah ikut meramaikan keriangan serombongan siswa dari salah satu SMU dikawasan Bogor yg tengah mengadakan study-tour dikawasan pariwisata pantai Ancol Jakarta pada sore itu, beberapa siswa terlihat saling bersenda gurau dibibir pantai atau bermain bola, dan sebagian hanya duduk-duduk sambil menyaksikan keindahan laut jawa yg luas terhampar dengan ombaknya yg sesekali menyapu bibir pantai.

Diantara yg hanya duduk dibibir pantai adalah seorang gadis berwajah indo yg saat itu duduk menyendiri diatas batu cadas, sesekali sepasang kaki indahnya digoyang-goyangkan untuk menyiprat-nyipratkan air laut dibawahnya, dan dirinya juga harus rela celana panjang jeansnya basah hingga sebatas lutut disaat ombak lautan menyapu bibir pantai, walau kemudian sapuan air laut itu akan kembali lagi ketengah lautan dengan meninggalkan beberapa benda yg dibawanya, baik itu sampah, daun, ataupun hewan, diantara hewan yg terdampar itu adalah mahluk kecil menyerupai keong namun memiliki kaki-kaki seperti kepiting yg saat itu tengah berjalan menyusuri pasir menuju kearah gadis itu, disaat sang gadis ingin memungut mahluk lucu itu, sapuan ombak kembali datang untuk kemudian membawa lagi mahluk itu ketengah lautan, namun kali ini ombak itu juga meninggalkan benda yg lain, benda berbahan logam yg panjangnya tak lebih dari 15cm, benda berujung runcing dengan pangkalnya melebar membentuk ornamen bunga, dan benda itulah yg akhirnya dipungut oleh sang gadis, diperhatikannya beberapa saat, untuk kemudian dengan iseng digunakannya sekedar untuk menuliskan sesuatu pada pasir pantai, walau akhirnya tulisan yg dibuatnya itupun hilang terhapus oleh sapuan air laut.

” Woooiiiii…Liza, ayo.. mau pulang gak? yg lainnya sudah pada sampai di bis tuh…ngapain ngalamun sendirian disitu, kesambet baru nyaho lu…” teriak salah seorang rekan gadis itu, yg akhirnya dengan malas sang gadis melangkah meninggalkan pantai, setelah terlebih dahulu memasukan benda yg baru saja dipungutnya itu kedalam tas ranselnya.
Sementara pantai yg terletak diutara kota Jakarta itu sebenarnya tengah menyajikan lukisan terindahnya pada senja itu, dimana matahari seolah hendak ditelan kedalam hamparan laut, sehingga lautan memantulkan semburat cahaya matahari yg kuning keemasan, dan untuk pada keesokan harinya sang mentari yg tenggelam itu akan kembali muncul untuk menjadi saksi terjadinya kisah-kisah yg diperankan oleh mahluk-mahluk dibawahnya, kisah-kisah yg kita tak pernah tau akan seperti apa kejadiannya, seperti halnya dengan gadis muda yg baru saja melangkah meninggalkan pantai itu, entah kisah apa yg akan diperankannya untuk esok hari dan juga hari-hari berikutnya. Kisah yg datang silih berganti, dengan pemeran yg berbeda dan juga lakon yg berbeda, seperti halnya benda-benda kecil yg terdampar dibibir pantai, yg hanya beberapa saat menjadi penghuni sementara, untuk kemudian lenyap tersapu oleh ombak yg menjilat, namun juga entah didapat dari mana kembali gulungan ombak itu meninggalkan benda yg lain, atau terkadang juga benda yg sama….. dengan kisah yg sama.

T A M A T

Author: 

Related Posts