Cerita Dewasa Cinta Sejati – Part 19

Cerita Dewasa Cinta Sejati – Part 19by on.Cerita Dewasa Cinta Sejati – Part 19Cinta Sejati – Part 19 Bagian 14 Nova Cintaku yang Baru atau Pelarianku? Hari itu hujan turun begitu deras membasahi kampus Gedong Meneng, dan aku sedang duduk santai di sebuah kios rokok di terminal kampus ditemani segelas kopi hitam. Saat sebuah angkot berhenti di depanku, tampak seorang gadis yang hendak turun itu terburu-buru keluar dari […]

tumblr_ns0dg1qGI51tp7wv0o1_1280 tumblr_ns0dg1qGI51tp7wv0o2_1280Cinta Sejati – Part 19

Bagian 14
Nova
Cintaku yang Baru atau Pelarianku?

Hari itu hujan turun begitu deras membasahi kampus Gedong Meneng, dan aku sedang duduk santai di sebuah kios rokok di terminal kampus ditemani segelas kopi hitam. Saat sebuah angkot berhenti di depanku, tampak seorang gadis yang hendak turun itu terburu-buru keluar dari angkot untuk menghindari hujan, namun sayangnya dia terpeleset dan jatuh terduduk. Aku berlari mendekatinya dan membantunya berdiri, dan dengan tertatih karena rupanya pantatnya terasa nyeri dan sebagian celana jeans nya basah saat terjatuh tadi, dia aku papah dan aku dudukkan di tempat aku duduk tadi. Sambil menunggu rasa sakitnya hilang, kami berkenalan dan ngobrol di kios rokok itu, bahkan dia pun memesan segelas kopi hitam sama dengan minumanku. Semakin lama, kami ngobrol semakin akrab dan saling bertukar nomor handphone. Sampai akhirnya dia pamit menuju ke fakuktasnya setelah hujan reda.

Hari itulah aku bertemu dan berkenalan dengan Nova.

Kemudian semua mengalir dengan apa adanya, wajar tanpa rekayasa. Aku dan Nova mulai sering telpon-telponan, sms-an, dan bertemu di tempat umum di kampus. Sedikit demi sedikit, aku mulai mengenal siapa Nova. Sebenarnya Nova saat itu masih punya pacar, tapi saat itu pacarnya tampak sedang menjauh, berusaha menghilang di kehidupan Nova.

Nova adalah mahasiswa seangkatan denganku, yang kuliah di Fakultas Teknik. Nova anak yang pintar pastinya. Di kota ini dia tinggal di sebuah rumah yang dibelikan oleh orangtuanya untuk Nova beserta adik dan kakaknya kuliah dan sekolah di kota ini. Kakaknya ada dua, dan adiknya satu, semuanya wanita. Dirumah itu mereka tinggal berempat dengan ditemani oleh seorang pembantu. Ayahnya adalah seorang juragan kopi di wilayah barat propinsi ini. Yup, Nova adalah orang yang cukup berada. Mereka semua dibelikan mobil satu satu oleh ayahnya untuk beraktivitas. Saat pertama bertemu dulu Nova naik angkot karena Jazz merahnya masih diservis di bengkel.

Walau berasal dari keluarga kaya, Nova orangnya sangat bersahaja. Dandanannya tak pernah mencolok, biasa saja khas mahasiswa fakultas teknik yang lebih mengutamakan otak dari pada penampilan. Nova juga ikut perkumpulan pecinta alam di kampus ini.

Aku menyukai Nova. Aku menyukai menatap wajahnya, aku menyukai caranya berbicara dan tertawa. Aku suka semua yang ada pada Nova, apa adanya. Aku tak peduli Nova anak orang kaya, dan Nova pun bisa dengan luwes mengimbangi aku yang tiap hari berganti mobil (mobil angkot maksudnya, hehe). Itulah alasan yang paling mendasar kenapa aku sangat menyukai Nova, karena selain cantik, Novatak pernah mempermasalahkan keadaan finansial atau tampang semata. Dia pernah bilang, dia akan menyukai seseorang bila karakternya pas dengan Nova. Aku cukup beruntung saat Nova bilang dia merasa nyaman berteman denganku.

Seperti biasa, walau aku sangat menyukai Nova, aku tidak buru-buru menyatakan cinta dan memintanya jadi pacarku. Aku sangat menikmati saat dimana aku memperhatikan Nova dan mencoba mengenal kepribadiannya lebih dalam. Dan selama itu, Nova pun baik-baik saja dan semakin akrab denganku.

Hingga suatu saat, entah darimana ide itu muncul, Nova mengajakku nonton di bioskop. Saat itu kebetulan kami berdua tidak ada kuliah siang, berkeliling kota tak tentu arah dengan Jazz merah, Nova mengajak aku nonton film di bioskop. Kebetulan sore itu bioskop tidak terlalu ramai, dan film yang dipilih Nova adalah sebuah film barat yang bergenre romantis. Kami duduk di deret paling atas, walau tidak di pojok. Theatre itu cukup sepi, hanya beberapa orang saja yang duduknya pun berpencar di segala arah.

Setelah hampir setengah jam serius menatap layar lebar, sambil mengomentari adegan yang terpampang di depan kami, aku meraih bahu Nova dan membawa kepalanya bersandar di bahuku. Nova menurut saja, bahkan mengatur posisinya agar semakin nyaman bersandar di bahuku.

Satu saat tatapan kami bertemu. Nova tersenyum kepadaku. Saat itu aku merasakan sangat nyaman, ada desiran aneh dalam dadaku. Perlahan aku mengecup kening Nova, dan Nova tersenyum menatapku. Jemari kami kini bertaut, saling menggenggam dan kadang meremas.

Cantik sekali pujiku kepada Nova.

Nova tersenyum malu, kepalanya menelusup ke leherku dan tertunduk malu.

Gombal. bisiknya lirih dengan pipi merona.

Aku kembali mencium Nova, kali ini aku mencium rambutnya yang harum. Berkali-kali memberikan kecupan di ubun-ubun kepalanya. Nova mengangkat kepalanya menatapku.

Raka, rasanya nyaman banget dipeluk begini

Va mau Raka peluk terus? Va adalah panggilan sayangku pada Nova.

Mau jawabnya malu-malu. Duh pipinya merona lagi

Besok-besok masih tetap mau?

Nova mengangguk, dan dikecupnya pipiku. Aku menatap mata Nova dalam-dalam, mencoba berkomunikasi tentang apa yang aku rasakan dalam hatiku, begitu juga Nova membalas tatapanku.

Hingga akhirnya bibir kami bertemu, saling mengecup dengan lembut. Nova memejamkan matanya, terus mengecup bibirku dengan lembut. Aku berusaha mengimbanginya, bibir kami saling berpagutan cukup lama.

Sampai akhirnya kami menghentikan ciuman itu dengan nafas yang semakin memburu, Nova tampak sangat tersipu walau terpancar jelas bahagia di wajahnya. Aku semakin gemas dibuatnya, segera aku memagut kembali bibir pink yang merekah milik Nova. Kali ini ciuman kami semakin dalam, lidah kami mulai saling bertemu, kemudian saling membelit dan saling menghisap.

Tangan Nova merangkul leherku, sementara tanganku memeluknya dari bawah ketiaknya. Tanganku mengusap di punggung Nova, membelai dari tengkuk hingga ke pinggangnya. Perlahan belaianku semakin maju, mengusap bagian bawah ketiaknya, membelai sisi payudaranya. Tak ada penolakan dari Nova, malah tangannya semakin erat memelukku, kepalanya bergoyang mengikuti irama ciuman kami yang semakin dalam.

Perlahan tanganku mulai meremas payudara Nova, mulai dari pinggir lalu ke bagian bawah, mengusap sambil mengangkat lembut payudara Nova yang sekal. Nova mendesah, bibirnya membuka walau segera kembali aku pagut dengan bibirku. Tangan Nova mulai meremas rambutku, seiring dengan tanganku yang meremas payudaranya dari bawah ke atas, memberikan angkatan pada bagian bawah payudaranya untuk kemudian meremas pelan bagian puncaknya, terus ke atas hingga hampir mencapai pundaknya, lalu turun lagi dengan jari yang seakan menggaruk. Cara ini aku lakukan berulang-ulang, dan Nova semakin sering mendesah dan semakin lama semakin kuat desahannya.

Nova melepaskan pelukan kami, dengan menatap sayu padaku Nova mulai melepaskan 3 kancing teratasnya. Aku menunggu dengan berdebar, menatap lekat ke arah dada Nova yang ternyata sangat putih itu. Nova lalu melepaskan pengait branya yang ada di depan, dan membimbing tanganku ke arah buah dadanya. Kami kembali berpagutan, Nova kembali memelukku sementara tanganku kini meremas dengan penuh nafsu payudara Nova. Kadang aku memelintir putingnya dengan dua jariku. Ciuman Nova semakin ganas, memberikan sensasi saling melumat yang menggetarkan. Tangan Nova mulai mengusap pahaku, semakin lama semakin ke arah dalam menuju selangkanganku. Namun tangan itu tak pernah sampai, hanya mengusap dengan ragu. Aku jadi tak sabar, segera aku raih tangan Nova dan meletakkannya ke atas penisku yang sudah menegang keras.

Ooooohhhh. Kaaa.. desah Nova, sedangkan tangannya langsung meremas penisku yang terasa keras di balik celanaku.

Kegiatan kami berlanjut, saling mencium dengan aku meremas payudara Nova yang telah terbuka dan Nova meremas penisku dari luar celanaku. Aku mengeluarkan penisku dan tangan Nova langsung menggenggam dan mengocoknya lembut. Nikmat sekali rasanya sambil meremas payudara Nova sementara penisku sedang diurut mesra oleh Nova.

Setelah film yang kami tak mengerti ceritanya itu selesai, hari sudah mulai menjelang malam.
Kami melangkah keluar dari bioskop dengan lenganku merangkul Nova di pundaknya, sementara Nova memeluk mesra pinggangku.

Kita kayak orang pacaran, ya kata Nova sambil senyum-senyum.

Hehe Iya juga, ya jawabku baru sadar bahwa kami belum resmi pacaran, padahal di dalam bioskop tadi sudah petting habis-habisan.

Jadi kataku sambil menatap Nova. Kita sekarang gimana nih, Va?

Nova membalas tatapanku, dan dengan tersipu Nova kemudian menunduk.

Gak tau jawabnya sambil tersenyum malu-malu. Terserah Raka

Aku kembali merengkuh bahu Nova dan kembali berjalan. Nova semakin manja bergelayut disampingku. Ini sepertinya harus segera diselesaikan, masa udah petting habis-habisan tapi masih tanpa status begini. Di dalam mobil kami kembali berpelukan dan berciuman, dan aku meminta Nova menjadi pacarku.

Raka sayang banget ama Nova bisikku.

Nova kembali memelukku dan menyembunyikan wajahnya di dadaku. Tangannya meremas kuat bajuku, seakan menumpahkan semua perasaannya di sana.

Nova juga sayang ama Raka jawabnya lirih.

Nova mau kan, jadi pacar Raka? tanyaku. Nembak nih, ceritanya.

Gak mau jawab Nova sambil kembali bersembunyi dalam dekapan dadaku.

Harus mau kataku tersenyum, dan memeluk Nova lebih erat.

Bodo jawab Nova. Aku mengangkat dagu Nova dan kembali memagut bibirnya. Lama kami berciuman, hingga akhirnya kami sudahi dengan nafas yang terengah-engah. Nova lalu mulai menjalankan Jazz merahnya keluar dari aera parkir. Terus terang, aku belum bisa nyupir mobil, jadi terpaksa Nova yang nyupir sendiri.

Dari dulu ditungguin, udah kisah petting baru mau nembak kata Nova senyum-senyum menyindirku.

Terpaksa candaku yang langsung diberikan hadiah sebuah cubitan yang paling menyakitkan di pahaku.

Jadi gak iklas nih, nembaknya kata Nova sambil memelintir kulit pahaku.

Tadi udah di tembak katanya gak mau. Tawaku sambil berusaha melepaskan cubitan Nova.

Ih, sebeeel! Nova cemberut.

Salah kataku sambil menggenggam tangan Nova yang masih mencubitku.

Kok salah?

Harusnya kalo nyubit itu jangan bilang sebel. Tapi bilang Iiih sayang banget sih gue ama ni cowok, gitu

Norak

Tapi cantik

Lho kok jadi aku sih..? Kamu tuh yang norak

Aku memang norak tapi Nova cantik banget

Rayuan cap gayung itu sukses membuat Nova tersipu dan melepaskan cubitannya, kini Nova malah menggenggam tanganku sambil senyum-senyum. Wajahnya yang cantik tetap menatap ke jalan sambil mengemudi dengan satu tangan.

Aku mencium jemarinya yang ada dalam genggamanku.

Hari ini aku punya pacar baru kataku sambil terus menciumi jarinya, kadang aku emut jarinya dalam bibirku. Pacar baruku cantik banget

Aku juga punya pacar baru, dan pacar baruku ini norak banget dan tukang ngegombal balas Nova sambil tertawa.

Biarin jawabku sambil terus mengemut jari Nova. Biar norak tapi tadi dalam hati udah berjanji akan selalu sayang ama Nova

Pas berhenti lampu merah, dan Nova menatapku.

Janji? tanya Nova.

Janji jawabku membalas menatapnya sambil tersenyum.

Nova balas tersenyum. Senyumnya tampak begitu bahagia. Diraihnya tanganku dan Nova menciumnya, lalu mendekapkannya di pipinya.

Nova bahagia banget, Ka

Raka juga, Va

tapi Nova boleh minta sesuatu gak, dari Raka?

Apa itu, Va?

Mulai besok Raka harus mulai belajar nyupir, ya Masa tega pacarnya yang cantik ini disuruh jadi supir terus?

Jleb.

Iya deeehhhh Janji.!

End of Bagian 14
Terima Kasih

Author: 

Related Posts

Comments are closed.